Bogor, 21 Juni 2025
Si Huting huting (Si Kucing kucing)
Di cerita-cerita sebelumnya sempat kusebutkan nama desa tempat Papaku lahir yaitu desa terpencil yang hingga saat ini tidak ada di Peta Indonesia – saking kecil / terpencilnya / tidak penting bagi pemerintah. Ehm….
Mungkin saat itu aku berusia 10 tahun saat kutanya Papaku : “ Papa, Papa lahir di mana?” Lalu Papa menjawab : “ Si Huting huting “. Kutanya lagi (karena vocabulary Bahasa Batak ku terbatas , aku bisa sedikit-sedikit mengerti kalau orang-orang berbicara Bahasa Batak, tapi untuk berbicara hanya bisa kata-kata sederhana saja) : “Artinya apa Pa?”. Jawab Papaku : “Si Kucing kucing”. Dan aku tertawa. Tapi aku tau kalau nama-nama di dunia Suku Batak itu aneh-aneh, Tulang itu Paman, dan Saudara2, Tulang2ku ada yang bernama Gabungan, bahkan ada yang bernama Meja.
Sebelum aku bercerita tentang Desa Si Huting huting, aku mau bercerita sedikit mengenai Danau Toba & Tapanuli Utara.

Danau Toba – Sumatera Utara
Siapa yang tidak tau Danau Toba? Danau Toba adalah danau yang indah yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi turis domestik maupun mancanegara. Danau ini terletak di tengah Pulau Sumatera bagian Utara dan merupakan danau terbesar di Indonesia sekaligus danau vulkanik terbesar di dunia. Danau Toba merupakan salah satu dari 21 geopark / taman bumi di Indonesia & pada Juli 2020 diakui sebagai geopark dunia oleh UNESCO.
Ada cerita menarik mengenai Danau Toba, di mana ada Legenda Danau Toba. Legenda Danau Toba adalah sebuah cerita rakyat di mana pada suatu hari ada seorang nelayan yang menangkap seekor ikan mas. Pulau Samosir dipercaya sebagai jelmaan anak ikan mas itu. (Sumber : id.m.wikipedia,com)
Desa Si Huting huting berada di Kecamatan Doloksanggul , Tapanuli Utara.

Tapanuli Utara, Sumatera Utara
Kabupaten Tapanuli Utara terletak di sebelah barat daya Danau Toba. Mayoritas suku yang ada di masyarakat Doloksanggul adalah Batak, dan hampir seluruh warganya adalah etnik Batak Toba yang memakai sistem Marga sebagai nama keluarga. Marga yang mayoritas di Doloksanggul adalah Simamora, Purba, Manalu, Lumbangaol, Simanullang, Pasaribu, Marbun, Nainggolan, Nababan, Sianturi, Sihite, Sihotang, Sihombing, Situmorang, Pakpahan dan Siregar. Pekerjaan yang banyak digeluti warga Doloksanggul kebanyakan bertani dan masih sangat kental adat Batak yang masih tampak di tiap sudut kehidupan warga.
Sepertinya sudah cukup ya info mengenai Danau Toba – Tapanuli Selatan – Doloksanggul.
Aku mau bercerita mengenai Desa Si Huting huting. Desa sangaat kecil yang tidak ada di peta Indonesia hingga sekarang.
Seingatku saat aku kelas 2 SMP, Ompungku meninggal (Ibu Papaku) dan dimakamkan di TPU Cimenyan – Bandung, dekat rumah orang tuaku. Kemudian tidak lama kemudian aku diberitahu orang tuaku kalau makam Ompung akan dipindahkan ke kampung sesuai amanat Ompung dimakamkan di tanah keluarga. Jadi kami sekeluarga besar pulang kampung, jelas untukku ini kali yang pertama pulang ke kampung Papaku.
Persiapannya tidak mudah. Seingatku Papa mesti mengeluarkan biaya yang sangat besar karena mesti menyewa pesawat untuk membawa peti mati Ompung & untuk kami. Belum lagi segala pengeluaran untuk pesta di kampung. Jadi kalau suku Batak itu kalau meninggal / event apa saja pesta besar-besaran.
Aku sebelum berangkat diberitahu Mamaku untuk bekal banyak roti , mie instant & snack karena di kampung jauh dari tempat jualan. Aku gak terpikir kampung seperti apa jadi agak santai saja.
Setelah mendarat di Medan, rombongan keluarga kami melanjutkan perjalanan darat hingga Doloksanggul, Itupun sudah melelahkan ya. Dan kutanya apa masih jauh, ternyata kami mesti melanjutkan lagi 7 jam perjalanan darat ke kaki gunung untuk mencapai Desa Si Huting huting. Lalu setelah belasan jam total perjalanan, akhirnya kami sampai di kaki gunung dan kutanya kenapa berhenti sementara belum sampai. Tulang (Pamanku) bilang kalau perjalanan mesti dilanjutkan dengan berjalan kaki karena menanjak dengan medan yang berat berbatu-besar dengan pasir. Mati deh gue 😀 Untung aku yang sangat atletis bisa naik ke atas gunung untuk mencapai Desa dengan mudah (walau lelah sangat).
Akhirnya sampai juga di ujung Desa. Aku takjub memandang ke depan & sekitarnya. Aku yang lahir besar di Kota besar yang maju, Kota yang menjadi Ibukota Provinsi dan walaupun aku suka main ke sungai, hutan dan kampung-kampung, tapi baru kali ini melihat hamparan desa di mana rumah-rumahnya bentuk rumah panggung dari kayu, bekas kayu bakar yang dibakar di malam hari yang berfungsi sebagai penghangat juga penerang desa. Lalu di belakang rumah-rumah panggung, terhampar luas persawahan dan peternakan. Kulihat kuda, kerbau dan yang lucu itu babi berkeliaran bebas di antara rumah-rumah.
Belum selesai rasa amaze ku, aku cukup kaget bahwa di kampung TIDAK ADA KAMAR MANDI. Mati lah gue yang kedua kali 😅. Mamaku udah ribut aja pengen buang air kecil tapi musti turun gunung lagi. Akhirnya Papa dan Tulang-tulangku (Paman-pamanku 🙂) membangun 1 Kamar mandi khusus bentuk kotak dari seng bentuk kotak begitu saja, minimal tertutup hehe. Mamaku sudah bawa banyak tissue basah dan tissue kering.
Masalah kedua adalah makanan. Prinsip yang kulihat : Binatang yang lewat / terlihat, itulah yang dimakan 😆. Jadi misal kulihat babi gemuk berkeliaran di sekitar rumah ya itulah yang dimasak untuk makan bersama sekampung. Masaknya di dalam tong di atas kayu bakar. Lalu aku juga pernah makan daging kuda karena kuda cukup banyak hidup bebas. Rasanya hmm daging yang alot (keras) karena wajar kuda berotot. Aku juga makan kerbau. Aku seperti berada di zaman manusia Purba. Jadilah Mamaku sibuk makan mie instan saja dan sesekali minta turun gunung cari warung makan terdekat di kaki gunung.
Hal lain yang baru kualami seumur hidup adalah pesta adat Batak Toba pemindahan makam & memakamkan kembali. Mungkin bagi turis mancanegara, hal ini bisa jadi tontonan yang sangat menarik. Karena… acaranya seru banget 7 hari 7 malam sepertinya. Para Inang inang (Ibu ibu) dengan pakaian khas Batak membawa beras di wadah tinggi di kepala mereka, juga membawa berbagai hasil bumi sambil menari dan bernyanyi. Aku tidak terlalu paham bahasa Batak, aku memperhatikan saja. Kemudian ada juga sesi menangis sambil berpantun berbalas-balasan. Aku juga heran apa ini scripted atau tidak hehe.
Kami tentu tinggal di rumah Papaku (Ompung), kulihat foto 10 inch hitam putih foto Ayah Papaku. Seumur hidup aku tidak bertemu beliau karena seperti cerita kisah hidup Papaku sebelumnya, Ompungku meninggal saat Papa kuliah di FK UNPAD Semester 5. Listrik tidak ada. Sedih ya, padahal itu sudah tahun 1992. Jadi pakai lampu petromax (coba di googling untuk yg tidak tau lampu petromax). Juga tidur dengan sleeping bag karena malam hari udaranya dingin karena di atas gunung. Untuk menambah hangat, di luar rumah dibakar kayu bakar.
Aku merenung, luar biasa sekali dari desa di antah berantah ini sebenarnya banyak anak-anak cerdas yang mestinya dapat akses pendidikan yang layak secara gratis. Aku bersyukur sekali setelah generasi Papaku, Papaku juga mendorong sepupu-sepupu Papa kemudian putra-putri lain untuk berani ke Jawa untuk bersekolah. Rumah orang tuaku di Bandung menjadi tempat transit mereka. Jadilah rumahku selalu ramai karena ada saja yang baru datang dari kampung untuk bersekolah dan tinggal sementara bahkan ada yang bertahun-tahun tinggal di rumah orang tuaku. Aku bangga sama Papaku yang sangat baik hati & berpikiran jauh ke depan untuk memajukan putra-putri daerah. Juga Mamaku yang sangat baik hati tidak keberatan menampung mereka di rumah walaupun ekonomi keluarga kami saat itu pun bukan termasuk berkecukupan karena Papa masih fokus kuliah S2 lanjut S3.
Perjuangan Papa tidak sia-sia, dari kampung di antah berantah tersebut, sudah mencetak entah berapa dokter, insinyur, ahli hukum, perawat, S2, S3, beasiswa ke luar negeri dll.
Sebagai penutup kisah ini, baru-baru ini kutanya Papa yang baru pulang kampung , : “Papa, bagaimana kondisi kampung sekarang? Apakah sudah ada akses jalan yang bisa dilewati kendaraan? Perumahannya sudah dibangun?” Dan sedihnya jawaban Papa :” Ah masih begitu saja” . Lalu aku sedikit kesal dan bilang , “ Lho kemana itu pemerintah? Segitu pemasukan dari wisata saja sudah besar untuk daerah Toba-Tapanuli ?”. Semoga…. Desa Si Huting huting mendapatkan perhatian pemerintah ke depannya Aamiin…
Sampai jumpa di cerita berikutnya ya teman-teman 🙂