Bogor , 16 Juni 2025
Note : Entah persisnya kapan di tahun 2024, Papa mengirimi aku, kakak dan adikku serta menantu2nya tulisan tentang kisah hidup Papa. Aku edit sedikit tanpa mengubah isi – maknanya.
“PERJUANGAN HIDUP YANG SANGAT BERAT DISERTAI DOA DAN PANTANG MENYERAH DARI SEORANG ANAK DESA UNTUK MERAIH CITA-CITA MULIA”
Ambrosius Purba
Puji syukur saya panjatkan, kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga saya dapat meraih cita-cita yang didambakan oleh kedua orang tua.
Rekam Jejak Perjuangan Hidup Anak Desa sewaktu SR, SMP, SMA
Ambrosius lahir pada tanggal 7 April 1947, nama itu adalah nama baptis pemberian Pastor Saitnihuta Dologsanggul, Tapanuli Utara.
Kami hidup di desa yang penduduknya berpenghasilan relatif rendah. Walaupun penduduknya berpenghasilan rendah, banyak tokoh bangsa ini lahir dari sana oleh karena bantuan pendidikan dan pembiayaan yang diupayakan oleh pendeta-pendeta dan pastor-pastor yang datang dari Belanda dan Jerman. Salah satu tokoh arsitek dari kampung saya adalah Arsitek Silaban yang membangun Mesjid Istiqlal Jakarta.
Waktu saya SR (Sekolah Rakyat) dan SMP metode pendidikan yang kami dapatkan dari pendeta dan pastor tersebut antara lain : melatih kemampuan kami menghapalkan salah satu bagian dari Kitab Suci Injil dan yang kami hapalkan tersebut diwajibkan kepada kami untuk menjelaskan makna dari arti dari ayat-ayat Injil tersebut.
Tentu kami bercerita sesuai kemampuan kami dan masing-masing kami secara periodik melakukan kegiatan pembelajaran tersebut. Selain itu 2-3 kali seminggu wajib melakukan olahraga sepakbola. Tujuannya untuk melatih kerjasama, teknik menendang bola dan tentu untuk meningkatkan derajat kesehatan kami.
Pada saat saya duduk di SMA Katholik Bintang Timur Balige, dan tinggal di Asrama, pada saat itu kami diajarkan oleh Prater-prater (Biarawan) dari Belanda. Acara harian setiap hari : pada jam 5 pagi kami harus sudah bangun, lalu jam 5.30 kami masuk acara misa di Kapel/Gereja Kecil sampai 6.30. Kemudian jam 6.30 kami makan dan berangkat ke sekolah yang dimulai jam 7 pagi, kebetulan gedung sekolah hanya sekitar beberapa meter dari asrama.
Sepulang dari sekolah jam 13.00 kami langsung makan siang. Jam 13.30 sampai jam 15.00 kami semua diwajibkan masuk kamar masing-masing dan beristirahat. Jam 15.00 sampai jam 17.30 kami diwajibkan berolahraga, yang kebetulan fasilitas olahraga sangat lengkap antara lain lapangan sepakbola, bola voli, bulutangkis, tenis meja, dll. Jam 17.30 kami mandi dan pada saat jam 18.00 masuk ke gereja kembali untuk berdoa sampai jam 18.30 dan makan malam. Jam 19.00 sampai jam 23.00 kami masuk aula untuk belajar bersama yang diawasi oleh Prater Belanda tersebut. Setiap kami melakukan kegiatan ini selalui diawali berdoa dulu dan diakhir kegiatan dengan berdoa, adapun memimpin doa kami saling bergantian.
Pendidikan yang sangat teratur dan yang saya alami dilakukan dengan penuh kebahagiaan, dan tidak ada unsur kekerasan selama saya mengikuti pendidikan SMA Bintang Timur Balige tersebut.
Note : SMA Katolik Bintang Timur Balige berlokasi di Sangkar Nihuta, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara
Pada saat sekolah, guru-guru kami prater-prater Belanda tersebut mewajibkan masing-masing dari kami dijadwalkan secara periodik menceritakan, mendiskusikan sesuai dengan topik pelajaran yang ditugaskan oleh prater tersebut. Kalau saya amati dan dikaitkan dengan ilmu pengetahuan saat ini sejak SR, SMP dan SMA sudah dilakukan upaya peningkatan fungsi otak kiri antara lain untuk dapat berpikir rasional dan meningkatkan fungsi otak kanan antara lain melatih kemampuan kreatifitas.
Kisah ini bersambung ke cerita Papa berikutnya :
Rekam Jejak Perjuangan Hidup Anak Desa Sewaktu Mahasiswa sampai Lansia.