Kisah Seorang Asisten Rumah Tangga Mengantarkan Anaknya Sekolah Tinggi #truestory 

Bogor, 26 Agustus 2025 diambil dari Laman Facebook ku 18 Maret 2021

Note : Aku masukkan tulisan ini ke kategori Parenting, karena bagi aku, salah satu yang diajarkan dan dicontohkan kedua orang tuaku adalah berbuat baik kepada siapa saja dan berusaha mengangkat derajat orang-orang yang bekerja di sekitar orang tuaku. Juga perjuangan seorang single mother yang pekerjaannya masih banyak yang merendahkan tapi berhasil mendidik kedua putranya untuk bersekolah tinggi.

Saat aku berusia sekitar 8 thn, adikku lahir dan yg kuingat Ibuku mencari ART tambahan di rumah. Ternyata saat itu agen penyalur mengantar remaja perempuan yg perawakannya kecil & kurus. Mungkin karena butuh banget saat itu akhirnya Ibuku menerima remaja ybs bekerja di rumah ortuku. Poniyem namanya, aku memanggilnya Mba Pon. Pendiam, benar2 tidak banyak tingkah, penurut dan rajin bekerja.

Aku senang sekali ada Mba Pon bekerja di rumah. Karena kamarnya sering jadi tempat bersembunyi dan pelarianku saat ada masalah sedari kecil. Mba Pon juga sangat sabar dan seingatku tidak pernah marah padaku. Waktu itu suatu saat Mba Pon sedang sholat dan saat di gerakan sujud aku naik ke pundak Mba Pon seperti main kuda2an. Jadi aku mengenal Islam sedari kecil salah satu jalannya melalui Mba Pon di mana dalam kamarnya ada Al Quran dengan terjemahan, buku2 agama, buku2 doa dll.

Aku lupa Mba Pon tamat SMP/tidak. Pada suatu hari Ayah dan Ibuku bilang ke Mba Pon : “Kamu kursus menjahit ya. Jadi suatu saat kamu bisa kerja yg lebih baik / buka usaha jahitan”. Jadilah di sela2 Mba Pon mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Mba Pon sibuk dengan pergi ke tempat kursus menjahit dan praktek di rumah. Aku senang karena Mba Pon sering praktek membuat baju untukku. Juga saat SMP aku ada tugas menjahit dengan mesin jahit jadul Singer yg besar & fenomenal itu (susah ampun2an menyelaraskan gerakan kaki & putaran roda, belum lagi kalau nyangkut juga kalau jarumnya patah), Mba Pon lah yg mengajari & membantu proyek2 sekolah ku.

Ketika aku beranjak besar aku sedih sekali karena Mba Pon memutuskan berhenti karena ingin pulang kampung & menikah. Lalu beberapa tahun hanya dengar kabar dari Ibuku bahwa Mba Pon memang benar menikah dan dikaruniai anak (bukan pindah kerja ke orang lain). Hingga suatu saat aku cukup kaget Mba Pon datang ke rumah ortuku sambil menggendong bayi dengan wajah kusut. Aku tak dengar apa yg Mba Pon & Ibuku bicarakan lalu tiba2 ada pria yg datang ke rumah dan mau merebut bayi Mba Pon. Benar2 drama. Hingga akhirnya kutau bahwa pria itu suami Mba Pon & pernikahan mereka ada masalah. Pada akhirnya Mba Pon bercerai dan Ibuku bilang mantan suami Mba Pon bukan orang baik2.

Setelah bercerai Mba Pon kembali bekerja di rumah ortuku dan anaknya di kampung, dititipkan di keluarga adik Mba Pon. Mba Pon masih suka menjahit & permak pakaian di waktu luangnya. Pada suatu hari Ayahku bilang ke Mba Pon supaya putranya yg sudah SMA di kampung pindah ke Bandung agar ada waktu dipersiapkan untuk kuliah. Akhirnya untuk beberapa waktu anak Mba Pon tinggal di rumah ortuku & diarahkan Ayahku untuk kuliah keperawatan. Mungkin Ayahku sudah memikirkan supaya mudah dibantu Ayahku secara keilmuan berhubung Ayahku seorang dokter & dosen FK yg juga punya banyak channel untuk mudah dapat pekerjaan.

MasyaaAllah putra Mba Pon dikaruniai otak yg cerdas sehingga lancar saja menjalani kuliah hingga lulus kuliah keperawatan. Terlihat sekali kebanggaan & kebahagiaan di mata & wajah Mba Pon saat hadir di wisuda putranya bersama Ayah Ibuku. Tak lama lulus Alhamdulillah hingga sekarang putra Mba Pon kerja di RS Swasta besar di Bandung. Ayahku terus mensupport agar putra Mba Pon lanjut sekolah hingga S2.

Membesarkan putra dengan kondisi single mother dan pekerjaan yg dulu sebutan Pembantu/Babu di Indonesia itu identik dengan pekerjaan rendahan plus konflik dunia remaja yg membuat Mba Pon sering kudengar adu argumen dengan putranya Alhamdulillah berbuah manis. Buah dari kesabaran, ketekunan, doa tak putus dan tidak pernah lupa jasa orang2 baik yg menolong kehidupan Mba Pon & keluarganya.

Hingga saat ini Mba Pon masih setia mengurus rumah ortuku. Walau ART tambahan selalu berganti2, Mba Pon tetap setia & amanah mengurus dan menjaga rumah ortuku. Tiap aku berkesempatan mengunjungi kedua ortuku , Mba Pon sibuk memasak berbagai makanan kesukaan ku & kedua putraku. She always cooks variety delicious traditional – homemade food. Anak2ku memanggil Mba Pon dengan panggilan Uwak.

Kenapa jadi ingin cerita ini.. Karena semalam ada tlp masuk dan ternyata putra Mba Pon..

“Assalamu’alaikum.. Mba Lia (panggilan kecilku), maaf ini saya … Maaf banget tidak pernah kontak Mba Lia. Di kesempatan ini saya mau minta doa restu saya InsyaaAllah mau menikah. Berhubung pandemi tidak ngundang datang. Terimakasih atas semua kebaikan Mba Lia selama ini.”

Rasa haru bikin mataku berkaca2. Teringat perjuangan & kebaikan & keshalehan Mba Pon sedari aku kecil. Semoga Mba Pon di sisa usianya sehat, berbahagia & suatu saat bisa melakukan hal-hal yg ingin dilakukan & disukainya.

Barakallahu Fiikum Mba Pon & Keluarga

F.B. Monika

Hingga saat ini Mba Pon masih setia bekerja merawat, menjaga rumah kedua orang tuaku. Di salah satu dinding rumah orang tuaku dipajang foto wisuda anak Mba Pon saat lulus keperawatan bersama orang tuaku. Kalau melihat foto itu tidak ada yang menyangka kalau di foto tersebut adalah ART orang tuaku dan putranya karena seperti keluarga sendiri. Nanti saat aku pulang ke rumah orang tuaku akan kufotokan ya 😀

Note : Tulisanku ini di like 802 pembaca, 83 komentar & 52 x di share

Beberapa komentar yang masuk :

  • Thank you for telling this story. Made me feel all warm and fuzzy inside, despite all hardships we are facing now.

Barakallah Teh Monik dan ortunya, Mb Pon dan putranya.

  • Konon katanya Marga Purba itu emang terkenal baik sama orang Kak… tapi kalau boru Purba katanya cerewet😀
  • Masya Allah… Terima kasih atas sharing kisahnya yg menghangatkan hati dan Kenapa mbak monik itu bermanfaat untuk sesama.. Ternyata tumbuh dari keluarga yg sangat baik, MasyaAllah.membuat tersenyum, mbak Fatimah Berliana Monika Purba 💕
  • Masyaallah, insyaallah semoga kebaikan yang dilakukan keluarga mba Monik mengekalkan hidayah hingga husnul khotimah 🤲
  • Always inspiring.

Allahumma barik.

  • MasyaAllah … sangat menginspirasi kisahnya 🥰🙏
  • Masya Allah 😭😭😭

Terharuuu sangatt

Barrakallahu fiik mba Pon dan keluarga

  • Masya Allah mba Monik , menginspirasi sekali , selalu banyak pelajaran yg aku petik melalui tulisan2 mba Monik. Barakallah 😍
  • terima kasih tulisannya mbak monik, semoga mbak pon diberkahi pernikahannya.. izin share ya mba..
  • Masyaallah mba Monik sekeluarga memang benar-benar orang baik yang selalu membantu sesama.
❤️
❤️
❤️

Barakallah mba Monik.

  • Masyaallah, saya yakin masih banyak orang2 baik seperti keluarga mba Monik..

Barakallahu fiik mba Monik sekeluarga… 💗

  • Semoga msh ada majikan yg perduli dengan nasib art nya seperti keluarga mbk monik,krna art akan baik jika majikan jga menghargai art nya.
  • Ya Allah mbaaak … air mata saya luruh … maasyaa Allah … semoga kebaikan mbak sekeluarga jadi amal jariyah. Peluuuuk
  • Mashaa Allah.. barakAllahu fiikum buat mba Pom sekeluarga dan mba Monik sekeluarga, ayah dan ibu Semoga selalu sehat bahagia dan diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • What a beautiful story 🥰
  • So sweeeeettttt 😍😍 Masyaallah
  • Masya Allah.. orang baik bertemu dengan keluarga yang baik.. baarakallahu fikum.

Share :

10 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kekuatan Pelukan

Kekuatan Pelukan

Bogor, 14 Oktober 2025 diambil dari Laman Facebookku 27 November 2019 Kemarin saat bedrest sempat…

BAHAYA MP-ASI DINI (MP-ASI = Makanan Pendamping ASI) Bogor, 14 Oktober 2025 , diambil dari…

Trending