Kenapa Aku ? #Repost teringat aku yg pernah sangat optimis

Bogor, 14 Agustus 2025 – diambil dari Laman Facebook ku 17 Juni 2021

PS : Dan 2 minggu lalu, dr mataku menemukan mata kananku juga ada kerusakan hanya saja Alhamdulillah posisi di ujung jadi aku masih bisa melihat walau mata kananku pun tidak sempurna.

Bandung, pada suatu hari di tahun 1991

Di suatu pagi aku bangun membuka mata, semua gelap. Aku tak bisa melihat ! Kukucek kucek mataku , tapi tetap saja aku tidak bisa melihat, Aku berteriak memanggil Ibuku, dan Ayahku yang seorang dokter tidak bisa menemukan jawabannya.

Hari itu aku terpaksa tidak ke sekolah & Ayahku tidak berangkat kerja. Lalu kudengar Ayah menelpon temannya dokter spesialis mata, dan pk 9 kami berangkat ke RS Mata Cicendo. Selama perjalanan aku sangat ketakutan, aku takut buta. Sesampainya di RS Cicendo aku diperiksa singkat dulu untuk kemudian dilanjutkan tes darah. Kemudian mulailah pemeriksaan mata yang menyakitkan. Mataku ditetes cairan untuk memperbesar pupil, kemudian dibuka dengan beberapa alat, disenter, diminta menggerakkan bola mata berulang2 dan berpindah2 mesin periksa sampai aku pusing sekali serasa mau pingsan. Sisanya aku menunggu hingga hasil tes darah keluar.

Entah jam berapa akhirnya hasil darah keluar. Seperti terdakwa, aku duduk berhadapan dengan dokter mata yang hanya melihat ke Ayahku. Mungkin dianggapnya aku masih kecil untuk bisa mencerna.

Yang tidak pernah kulupa, dokter bilang ” Mata Kiri anak dokter (Ayah saya) sudah rusak, sudah masuk kategori buta, dan tidak ada intervensi medis yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya karena sudah rusak sarafnya, sudah jadi jaringan parut. Sementara mata kanan sedang diserang lagi oleh toksoplasma yang harus segera kita matikan supaya tidak terlambat penanganannya seperti mata kiri. Kenapa anak ini baru dibawa sekarang? Dia sudah terserang toksoplasma sejak lahir.” Kulihat Ayahku diam saja mendengarkan baik2 penjelasan dokter.

Badanku lemas, jadi aku sudah divonis buta mata kiriku dan harus segera menyelamatkan mata kananku. Sampai di rumah, dengan perasaan sedih, kudengar Ibu teriak marah-marah ke Ayahku. Kira2 Ibuku marah ke Ayahku bilang begini : ” Sudah lama ku bilang si Lia (panggilan kecilku di rumah: itu matanya JULING, tapi situ (Ayahku) diam saja gak bawa ke dokter dari dulu”.

Note : Mataku juling (strabismus istilah medisnya) , itu tidak setiap saat. Jadi akupun tidak tau kapan mataku juling. Saat besar aku mengira-ngira mungkin saat aku kelelahan mataku juling. Karena aku tidak tau kapan mataku juling, kadang aku bingung saat disuruh melihat ke depan lurus / saat temanku memanggil dia bingung aku melihat kemana. 

Akhirnya aku menangis juga, aku sedih, sedih sekali waktu itu. Tidak, aku tidak marah pada Ayah maupun Ibuku. Yang aku sedih adalah tidak ada seorangpun yang memelukku, menenangkanku, minimal saying that Everything’s will be okay, we can overcome this together, we can save your right eye, etc something comforting words like that.

Aku, yang baru mulai beranjak remaja, usiaku baru 12 tahun. Saat di mana kalau di bahasa Sunda sedang “meujeuhna’ alias sedang mekar2nya, dan untuk remaja putri penampilan termasuk yang utama. Sementara aku, sering ditanya “Mon , Loe liat ke mana sih?”, “Mon, Loe tu juling ya?” , walau berusaha jawab biasa aja, tetap hatiku sakit. Kulihat Kakak perempuanku, hidupnya kunilai sempurna : Cantik, pintar, semua bidang yang dia coba selalu jadi yang terbaik, you name it beliau jadi model, paskibraka, Putri Indonesia, penyanyi, masuk ke sekolah terbaik dll .

Waktu itu aku bertanya pada Allah ” Kenapa Aku ? “, dan tidak pernah kutemukan jawabannya waktu itu. Untuk penyembuhan mata kananku aku harus minum obat yang banyak sekali, rasanya sangat pahit, sangat membuat mual hingga aku sering muntah. Cukup lama aku tidak ke sekolah. Hingga di tes darah & pemeriksaan berikutnya aku bisa bernafas lega bahwa mata kananku bisa diselamatkan , dengan berbagai catatan.

Saat sendirian di rumah selama penyembuhan, aku akhirnya memutuskan bahwa aku bisa bangkit, tanpa dukungan siapapun aku pasti bisa. Watakku memang keras & persistent sejak kecil sekali sudah terlihat. Aku mengganti cita2ku, awalnya menjadi presenter berita di TV , yang sudah tidak mungkin lagi kugapai .

Kembali ke sekolah, aku giat belajar, aktif di kegiatan kesiswaan sehingga selalu menjadi siswa dengan nilai akademik tertinggi . Namaku selalu terpampang di mading pengumuman sekolah. Kemudian aku dipilih & diangkat menjadi Ketua OSIS, jabatan bergengsi mengalahkan kandidat siswa laki-laki. Lalu aku berhasil meraih impianku menjadi atlet bola voli yang bisa tembus ke pelatnas dan beberapa kali meraih gelar atlet terbaik. Tidak ada tim pelatihku yang tau kalau mataku yang kiri buta. Aku selama SMA sudah punya penghasilan sendiri, sudah terbiasa tinggal di Mess jauh dari keluargaku, aku bisa keliling Indonesia gratis saat ikut kejuaraan. Pada akhirnya aku senang karena ada yang bisa kutunjukkan ke diri sendiri &  keluargaku bahwa aku bisa berprestasi.

Setelah aku memeluk Islam, sering aku mengulang episode cobaan hidup yang pernah kulewati. Dan pertanyaanku ke Allah  “Kenapa Aku ?” sedikit demi sedikit kutemui jawabannya, kusadari hikmahnya.

Belasan tahun kemudian, hidupku tidak mulus juga. Hingga saat sekarang pun saat aku kesakitan, aku bukan lagi aku yang dulu saat SMP dulu. Bisa dicari & dipelajari baik di Al Quran maupun Hadits serta Kisah Nabi & Sahabat kenapa Allah beri kita cobaan.

Pemahaman agama Islam ku masih minim sekali tapi minimal saat ini aku bisa menasehati, menyemangati teman2ku yang mau menyerah untuk hidup, yang marah pada Allah karena diberi cobaan. Dan mereka, teman2ku yang tau cobaan2 yang kualami mendengar nasehatku karena aku sudah mengalami berbagai cobaan2 , jadi bukan sekedar omdo (omong doang) / lip service.

Sekarang hidupku mengalir saja, tidak terlalu banyak punya target apalagi ambisi, tidak membuat resolusi awal tahun seperti yang ngetrend tiap akhir-awal tahun Masehi, setiap saat menghitung2 nikmat yang kuterima dibanding menghitung2 sakit yang kurasakan, istghfar, bersyukur. Tidak banyak bergaul hang out wara wiri dengan Ibu2 yang senang bergaul, pagi hingga siang lebih bahagia diam di rumah bila tidak ada pekerjaan yang mengharuskanku keluar rumah, menghemat energi untuk aktivitas yg perlu kukeluarkan. Ada yang bisa kulakukan yang bisa bermanfaat untuk orang lain tanpa perlu keluar rumah.

Jadi bila aku ditanya, apakah aku bahagia. Dengan lantang aku akan katakan “Alhamdulillah, Aku Bahagia ! 🙂

Mari teman2, selalu cari & lihat pelangi, jangan hanya kesal karena hujan turun 🙂

F.B. Monika

Note : Tulisanku yang ini di like 1.000 / lebih pembaca, ada 80 komentar dan 64 kali di share

Beberapa komentar ku copas di sini : 

  • Masyaa Allah, mbak I love you cause Allah. Walau kita mungkin ga saling kenal tapi dari tulisan2 mbak selalu mensupport ku dari awal (awal tau mbak sekitar tahun 2013 pada saat aku bermasalah menyusui anak pertamaku), sampai sekarang aku masih mengikuti tulisan2 dan kisah2mu, aku hanya bisa mendoakan semoga mbak senantiasa kuat dan sehat karena engkau menginspirasi dan membantu banyak orang seperti saya, sekali lagi I love you ❤️
  • Masyaallah tabarakallah, makasih Mbak Fatimah Berliana Monika Purba selalu menginspirasi…..

Saya sedang berjuang mendampingi anak ke2 saya usia 8 tahun yang didiagnosa kena lazy eyes yang kalau dibiarkan lama² bisa buta juga karena syaraf mata yang malas lama2 akan mati. Waktu saya tinggal 2 tahun kurang sampai anak saya usia 10 tahun.

Semoga saya bisa sesemangat Mbak Monik ya.

  • MashaAllah, it really bring tears to my eyes…thank you for sharing this mba, very inspiring. May Allah heal you, strengthen our imaan and always be thankful in any condition we have now….semangat mb Fatimah Berliana Monika Purba ..saya yg selalu menunggu tulisan2 mba..
  • Kereeen, maasya Alloh. Tetep bersemangat membantu sesama di tengah banyak rasa sakit yang dirasakan. Barokallohu fiik. Semoga Alloh karuniakan kesabaran berlipat ganda dan Jannah-Nya buat Mba Monik sekeluarga.
  • MasyaAllah Tabarokallah..

Smg Allah selalu beri kesabaran dan kekuatan buat mba Monik. Semua ujian menjadi kebaikan pada akhirnya..amiin

  • Mbakk Mon…huhu terima kasih ya atas repostnya yg menyemangati dan membuat bersyukur. Semoga Mba Monik selalu dikuatkan, didekatkan dengan kebaikan dan keberkahan Allah. ❤❤
  • MasyaaAllah Tabarakallah 😭

          Stay strong Mb .. Semoga bahagia selalu

  • MasyaAllah mb monik.. semoga Allah selalu menjagamu dan memberimu kekuatan, aamiin.. terimakasih untuk pengingatnya .
  • Mba Monik, salah satu inspiratorku. Mba Monik yang smart, hangat dan selalu senang berbagi ilmu dengan segenap kemampuannya ♥
  • MasyaAlloh.. Tabarokalloh.. Selalu menginspirasi mba.. Saya pembaca setia tulisan2 Mba Fatimah Berliana Monika Purba . Semoga jadi wasilah kebaikan dan amal jariyah.. Aamiin
  • Belajar banyak dari dirimu, teteh..speechlesslah..terimakasih sdh mengkonfirmasi pertemanan dgnku🤗
  • Take time to rest, Mbak Fatimah Berliana Monika Purba

Sometimes these things come to us as a warning to slow down and be grateful about life and the people around us. \

Hang in there and keep faith of His plans. God speed 💞💞💞💞

  • Ya Allah..

Mba kita sama, juling sejak kecil dan mata yg juling sudah buta permanen, dan nama panggilannya pun sama, Lia. Hanya saya belum pernah cek darah.

Kini dan seterusnya menjalani hidup dengan satu mata saja yg juga sudah minus dan silindris.

Semoga menjadi peringan hisab di akhirat nanti.aamiin

Semangat ❤️❤️

  • Mbaaa.. 😭😭😭

Thank you, thank you, thank you…

Tiap membaca tulisanmu selalu membuat haru. Semoga jd amal pemberat timbangan kebaikan di akhirat nanti. 💗

  • Mba Fatimah Berliana Monika Purba Terima kasih sudah selalu berbagi mengedukasi ilmu bermanfaat. Peluk dan doa dari jauh ❤️
  • MaashaaAllah. Semoga Allah membalas surga untukmu mbak
  • Aku bahagia mengenal mbak Fatimah Berliana Monika Purba seperti semangat untuk terus bersyukur, kurangi mengeluh😘terimakasih mbakk
  • Masya alloh mb monic anaknya dokter, dari kecil mb monic sdh diuji semoga ujian yg makin berat makin kuat ya mb, karena mb monic disayang alloh, semuanya yg gak enak didunia akan tergantigan dg firdaus mb monic, semangat tawaqal trs ya mb monic….peluk sayang dr aku😭😭
  • MaasyaaAlloh. .

Sehat2 terus ya mbak, semoga Alloh mudahkan segala urusan mbak.

Mata sy mines gede ditambah beberapa bulan lalu di diagnosa uveitis juga, berasa kok “aku lagi” sih? �

Ternyata sakit nya sy belum apa2 �

  • Masyaallah mba, saya yg patah semangat jadi semangat lagi setelah baca tulisan ini 😊
  • Truly a strong woman, you are.

MasyaaAllah tabarakallah

Syafkillah syifaan ajiilan

  • Mbak, membaca tulisan mbak aku jadi malu sekali krn suka merasa tidak baik-baik saja.. makasih banget mbak monik, semoga Allah selalu memberikan mba kekuatan dan kesehatan, Aamiin
  • Teh… Ada yang diberi kemudahan dan fasilitas, tetapi kemudian jadi lalai dan penuh kesia-siaan. Ada yang diberi sakit dan keterbatasan, tetapi jadi lautan hikmah bagi orang lain.

Dan there you are, Teh… Saya hanya tahu Teteh dari Fb dan sedikit video YouTube, tetapi tulisan teteh selalu menghadirkan hikmah… Membuat diri sendiri yang kalau tak diingatkan bakal tinggi hati, jadi jatuh berdebam ke bumi sebab tersadar belum banyak yang dilakukannya atas nikmat yang Allah berikan.

Thank you, ya, Teh… Jazakillah khair ❤️ Kirim peluk sayang untuk Teteh yang selalu berjuang ❤️

Share :

22 Responses

  1. Your blog is a true hidden gem on the internet. Your thoughtful analysis and engaging writing style set you apart from the crowd. Keep up the excellent work!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kekuatan Pelukan

Kekuatan Pelukan

Bogor, 14 Oktober 2025 diambil dari Laman Facebookku 27 November 2019 Kemarin saat bedrest sempat…

BAHAYA MP-ASI DINI (MP-ASI = Makanan Pendamping ASI) Bogor, 14 Oktober 2025 , diambil dari…

Trending