Bogor, 23 Juni 2025
Sosok Papa bagiku
“ Just a toe ride on the run.
How did I get here?
What have I done?
When will all my hopes arise?
How will I know him?
When I look in my father´s eyes.
My father´s eyes.
When I look in my father´s eyes.
My father´s eyes.
Then the light begins to shine
And I hear those ancient lullabies.
And as I watch this seedling grow,
Feel my heart start to overflow.”
Kutipan lagu “My Father’s Eyes” by Eric Clapton.

Kalau teman-teman sudah baca cerita mengenai kisah hidup Papa dan tulisanku mengenai Desa Si Huting huting, aku yakin kalau teman-teman will amaze / put respect ke Papa.
Sosok Papa di masa kecilku
Masa kecilku bersama Papa yang kuingat, tidak banyak interaksi yang terjadi antara aku dan Papa. Karena Papa sangat sibuk. Bayangkan saja Papa seharian penuh sibuk mengerjakan thesis lanjut disertasinya, kemudian Papa membuka praktek di klinik kecil di Jl Kacapiring Bandung hingga malam, juga bekerja sebagai dokter UGD di RS Boromeus Bandung. Bila aku melihat Papa ada di rumah, Papa sibuk di depan komputer dan berdiskusi dengan asistennya.
Ada suatu masa Papa bertugas di luar kota dan hanya sekali saja aku pernah diajak ke desa tempat Papa mengabdi.
Kepribadian Papa sendiri bertolak belakang alias berbeda 180 derajat dengan kepribadianku. Kepribadianku menurun banyak dari Mamaku. Kalau ada yang mengenalku, pasti bisa menebak kepribadian Papaku seperti apa. Jadi kalau aku Sanguinis dan Koleris Sejati yang rame, berisik, senang berbicara di depan umum secara natural dan tentunya senang mengorganisir dan mengatur sesuatu, sementara Papaku adalah Phlegmatis Sejati dengan Melankolis plus sedikit Sanguinis. Kepribadian Papa ini tentunya berkah buat aku yang suka membuat onar dari kecil (hingga sekarang… ).
Pernah suatu waktu, mungkin saat aku SD kelas 4 atau 5, aku adu lari sama anak laki-laki di sekolahku (well, aku adu pancho, adu lari, adu kelereng, adu lompat tinggi dll lawan anak laki-laki bukan anak perempuan dan seingatku hampir selalu menang) dan aku terjatuh dengan posisi wajahku jatuh terbentuk aspal. Alhasil hidungku mimisan tidak berhenti, dan dari mulutku tidak berhenti mengeluarkan darah selain luka-luka di lututku. Ternyata gigiku patah sementara gigi-gigi lainnya retak dan gusiku robek.
Aku lupa apakah aku menangis atau tidak. Untuk pertolongan pertama menghentikan pendarahan dilakukan di sekolahku, dan selanjutnya Papa membawaku ke temannya dr gigi yang kata Papa, baru pulang belajar dari luar negeri dan punya teknologi terbaru untuk perbaikan gigi. Akhirnya Papa yang membawa dan menemaniku ke praktek temannya tersebut dan dilakukan pembuatan gigi palsu (karena saat itu sudah tumbuh gigi tetap) yang hasilnya bagus tidak seperti sambungan gigi patah.
Lalu pada waktu lainnya saat aku sedang bermain dengan teman-teman rumahku , you name it permainan anak-anak jaman dulu no gadget dan mengandalkan fisik seperti Ucing Boy, lompat karet, dll, aku terjatuh dan lututku terluka cukup parah. Untungnya Papaku sedang di rumah mengerjakan thesisnya jadi bisa mengobati lukaku.
Pokoknya aku sepertinya anak yang bikin pusing haha…
Pernah suatu saat pula aku tantrum karena aku tidak suka baju yang dijahit oleh Mamaku untuk aku dan kakakku sama persis. Aku ingat saat itu Papa dan Mama yang lagi istirahat tiba-tiba kaget aku masuk kamar marah-marah dan banting pot bunga hingga pecah dalam kamar dan bilang kalau aku tidak suka bajunya. Duh kalau kuingat lagi aku merasa bersalah banget ke Mama yang sudah menjahitkan baju itu. Papa diam saja, tidak marah, hanya melihatku pasrah.
Suatu saat ketika aku besar dan beres-beres file, kutemukan raport TK ku dan kubaca penilaian guruku kalau aku itu susah diatur, suka menangis, tantrum – mengamuk.
Walau Papa sangat sibuk, aku tau kalau Papa sebisa mungkin menyempatkan diri menjemput aku dan kakakku dari sekolah saat aku SD. Dan itu saat-saat paling menyenangkan bagiku karena aku bisa nodong Papa beliin aku jajanan, terutama coklat yang aku suka banget yaitu Coklat Suzana (dalamnya nougat, saat ini sudah tidak ada yang jual) dan kalau Papa lagi ada uang berlebih aku minta dibelikan coklat Silverqueen. Dibelikan coklat ini sudah hal yang mewah banget bagiku. Belum tentu saat aku ulang tahun aku dibelikan coklat ini, dan sepanjang aku ingat, aku dan kakak serta adikku tidak pernah dirayakan ulang tahunnya entah karena apa, mungkin berhemat juga tidak terbiasa merayakan ulang tahun di keluarga Papa dan Mama.
Satu hal yang bikin aku terharu saat aku sudah mulai mengerti ekonomi keluargaku yang pas-pasan saat aku kecil itu adalah Papa selalu bilang kalau aku minta jajan dan tidak punya uang. Papa bilang cari saja uang di celana kerja Papa. Uang di celana kerja Papa itulah uang cash yang ada hasil praktek malam Papa di klinik Papa. Kadang Mamaku harus pintar-pintar membeli lauk untuk dimasak dengan uang yang ada sementara rumah kami ada saja tamu – keluarga yang bertamu / ikut tinggal di rumahku. Kadang sedih kalau tidak cukup uang belanja untuk hari itu. Aku kadang langsung merogoh kantung celana kerja Papa yang digantung di kamar dan memang hanya uang ribuan saja yang ada.
Kadang kudengar juga kalau beberapa pasiennya tidak bisa membayar atau membayar dengan bentuk lain seperti hasil kebun seperti pisang. Pasien-pasien yg datang berobat ke rumah tentu saja tidak pernah Papa minta bayaran.
Papaku orangnya luar biasa dermawan & baiknya…. Plus sabar pastinya
Sosok Papa saat aku remaja

Seiring aku remaja, ekonomi keluarga kami mulai membaik. Tapi Papa tetap sangat sibuk dengan penyelesaian disertasinya, mengajar, praktek. Saat Papa mengajar, mata Papa bersinar-sinar, mengajar dengan penuh semangat dan sisi Sanguinis Papa keluar.
Aku dan Papa mulai makin jarang berinteraksi karena aku memutuskan untuk menjadi atlet bola voli.
Sebenarnya aku ingin jadi balerina (kalian jangan ketawa ya), karena aku kagum banget sama balerina yang bajunya bagus banget dan elegan. Salah seorang sahabatku adalah seorang balerina dan aku melihat sepatu dan baju balerina miliknya saat aku main ke kamarnya. Lalu aku ingin jadi atlet senam karena walau badanku bongsor alias tinggi besar, badanku lentur. Tapi aku batalkan keinginan itu karena aku merasa badanku kegedean untuk jadi atlet senam. Lalu aku ingin jadi atlet atletik karena lariku kencang, tapi aku malas kadang kalau berlari rutin. Jadilah saat kelas 3 SMP aku iseng bikin tim bola voli di sekolahku di mana jelas aku jadi Kaptennya. Kami iseng-iseng ikut Kejuaran-kejuaraan antar SMP se Kota Bandung dan selalu mendapatkan hasil yang baik, Top 3 di mana satu-satunya Sekolah Swasta Katolik yang pernah berpartisipasi dan masuk Top 3.
Pada suatu Kejuaraan, ternyata ada Talent Scout dari pelatih PBVSI. Lalu beliau mendatangi guru olahraga sekolahku yang bertugas jadi Coach saat itu dan menawarkan aku untuk masuk Club bola voli karena dinilai berbakat. Dan mulailah aku masuk Club yang independent karena tidak terpikir untuk jadi atlet pro. Ternyata selesai kelulusan SMP ku sebelum naik ke SMA, aku terpilih untuk mewakili Jawa Barat di Pelatnas Junior yang berlokasi di SKO Ragunan.
Sejak saat itu setelah selesai Pelatnas / Pelatda yg tinggal di mess / penginapan berbulan-bulan, aku tinggal di mess Club ku yang jarang sekali pulang karena weekend pun bisa jadi sedang bertanding. Alhasil aku jarang bertemu, berbicara dengan Papaku dan keluargaku. Aku yang pasti pulang untuk melaporkan hasil raporku ke Papa, bahwa walau aku atlet, aku tetap dapat berprestasi di bidang akademik.
Aku berkali-kali di ultimatum oleh Papa kalau aku mesti berhenti jadi atlet saat kelas 3 SMA supaya aku bisa mempersiapkan diri untuk Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Tapi aku keras kepala bilang aku masih mau berkarir sampai kelas 3 SMA selesai, karena saat itu sedang PORDA lanjut PON. Akhirnya prestasi terakhirku di PORDA dan aku tidak mengikuti seleksi PON. Aku kuliah di ITB kemudian untuk S2 aku kuliah di MM UI. Alhamdulilah keduanya kuselesaikan dengan baik yang membuat Papa bahagia.
Baik S1 maupun S2, aku merupakan lulusan tercepat di angkatanku, untuk S2 aku plus mendapat gelar Cum Laude dan Mahasiswa Terbaik ke 2. Aku bisa melihat wajah bahagia Papa saat di Balairung UI di antara ribuan wisudawan/ti dan keluarga, namaku dipanggil untuk naik ke panggung. Aku ingat betul kalimat MC seperti ini : Berliana Monika Purba , Jurusan Manajemen Marketing Magister Management, Lulus dengan IPK …. , dengan Predikat Cum Laude. Lalu gemuruh tepuk tangan kudengar sambil aku berjalan ke panggung.
Aku bahagia bisa membanggakan Papa dan Mamaku. Terutama Papa yang sangat mementingkan sisi akademik yang tinggi kepada anak-anak dan keluarganya.
Sosok Papa di mataku saat aku dewasa hingga saat ini

Kalau lihat foto di atas, mungkin tidak ada yang percaya kalau Papaku berusia hampir 80 tahun. Sama tidak percayanya kalau Papaku masih bisa berlari berkilo-kilo, masih bisa angkat beban. Berbadan tegap. Tidak memiliki penyakit-penyakit yang umumnya diderita bahkan oleh generasi muda seperti penyakit jantung, diabetes, asam urat tinggi, kolesterol tinggi, hipertensi dll.
Kuingat kakak iparku bilang: “ ini mantu-mantu Papa (kakak ipar dan suamiku) adu lari sama Papa juga kalah” haha…
Papa yang sangat dermawan dan tidak main perhitungan kalau soal membantu kadang mungkin membuat dilema Mamaku. Entah beberapa kali rumah kami menampung saudara-saudara dari kampung untuk kuliah di Bandung / kota besar lain. Bahkan seingatku 2 keponakan Papa full selama 4 tahunan tinggal di rumah dari mulai kuliah hingga selesai. Kalau bicara saat ini, murid-murid bimbingan S2 / S3 Papa aku kurang tau juga yang bimbingan di rumah. Para murid Papa itu makan bersama, bahkan disediakan snack, minuman, sampai Mamaku bilang, apa ada dosen lain seperti Papa.
Bahkan anak-anak ART (Asisten Rumah Tangga) Mamaku juga diminta untuk bersekolah tinggi. Di rumah orang tuaku terpampang foto besar foto wisuda anak ART yang bekerja di rumah orang tuaku dari usia belasan tahun hingga akhirnya putranya bisa lulus keperawatan. Kalau orang melihat sekilas foto tersebut tidak ada yang menyangka yang diwisuda adalah anak ART ku.
Karena murid Papa sudah banyak sekali tersebar di seluruh Indonesia, jadi keuntungan bagi aku sendiri. Di mana saat aku berobat, aku bertanya : “dok, S1 nya di FK mana…” Kalau jawabannya FK UNPAD , aku langsung bilang, ooh murid Papa saya dong ya… Lalu aku lebih diperhatikan kalau dr tersebut dr yang baru memeriksaku untuk pertama kali. Kalaupuan bukan dari FK UNPAD, aku langsung bercerita saja kalau Papaku dokter, Guru Besar FK UNPAD, seringnya sih dr yang sudah agak senior kenal / paling tidak pernah dengar nama Papa. Jadi ketika dr menjelaskan penyakitku atau menjelaskan hasil MRI, tes darah, Citi Scan dll itu walau aku paham, aku sambungkan juga via telefon ke Papaku untuk Papa bertanya lebih jauh / berdiskusi.
Saat ini aku jarang sekali bertemu Papa dan Mama, Karena Papa bisa berada di 3 kota yang berbeda dalam 1 minggu, masih sangat sibuk, aku sering mengingatkan Papa untuk menjaga kesehatan jangan terlalu cape. Karena aku sering sekali opname, kadang aku tidak memberitahukan Papa dan Mama kalau aku sedang opname , saat kasus serius saja aku baru telefon Papa. Saat kedua putraku meraih suatu prestasi, Papa akan memberi hadiah uang yang besar ke anak-anakku. Ya, saat ini Alhamdulilah Papa dan Mama berkecukupan.
Banyak hal yang kusesali selama ini menjadi anak Papa dan Mama. Aku merasa banyak menyakiti hati Papa dan Mama 😢 dan belum menjadi anak yang baik dan ruang untuk berbakti sedikit sekali karena banyaknya keterbatasan,
Doaku setiap hari adalah agar Papa diberikan kesehatan, dan aku yang beragama Islam ini berdoa agar Papa diberikan usia untuk mendapatkan hidayah. Aamiin…🤲
Sampai jumpa di cerita berikutnya 🙂
5 Responses
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me. https://accounts.binance.info/es-AR/register-person?ref=UT2YTZSU
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.