Kenapa orang awam non nakes perlu belajar soal kesehatan secara umum ?

Bogor, 14 juli 2025

Disclaimer : Aku bukan dokter maupun nakes lainnya. 

Walaupun aku anak dokter, kedua pamanku dokter, keluarga besarku juga banyak yang berprofesi sebagai nakes (tenaga kesehatan), tidak pernah terpikir olehku untuk apa orang awam yang tidak kuliah di bidang kesehatan, perlu belajar serta perlu saling mengedukasi mengenai kesehatan. Bahkan saat aku hamil pun aku merasa sudah cukup ilmu dengan membaca segudang (lebay) buku impor buku-buku tentang ASI, kesehatan anak, kehamilan, persalinan, pengurusan anak, MP-ASI, kesehatan secara umum, parenting, dll…

Dan ternyata ZONK saat aku melahirkan. Ambyar semua ilmu yang pernah aku baca via buku, dan selama kehamilan aku hanya mengiyakan yang diinformasikan dokter kandunganku. Walau sebenarnya banyak pertanyaan yang selalu urung kutanyakan karena kuanggap tidak umum bila pasien bertanya ini itu mengenai instruksi dokter. Bahkan di daerah2 terpencil kadang dokter itu dianggap dewa penyembuh yang sangat dihormati oleh warga lokal. Kurasakan sendiri perlakuan warga desa ke Papaku saat mengabdi di suatu desa di  mana sedang ada wabah TB (TBC / Tuberkulosis), Papa tidak dibayar dengan uang tapi dengan hasil bumi seperti pisang dan sangat dihormati warga, kepala desa.

Aku kebingungan dengan kondisi pasca persalinanku, baik itu luka caesarianku maupun kondisi putra pertamaku. Tidak ada waktu itu konselor menyusui apalagi IBCLC (International Board Certified Lactation Consultant) yang membantuku untuk menjelaskan kondisi bayiku dalam hal menyusui. 

Saat aku stress mungkin sudah masuk ke fase baby blues syndrome , aku masih terus mencari jawaban yang tidak kudapatkan dari dokter anak maupun dokter kandungan di kotaku tinggal saat itu. Akhirnya aku bersyukur aku menemukan mailing list (milis) – saat ini milis sudah bukan jamannya lagi- di mana di dalam milis tersebut berkumpul para orang tua yang rata-rata orang tua muda yang semangat belajar mengenai kesehatan anak -khususnya- dan dipandu oleh dokter senior dan dokter-dokter muda yang semangat mengedukasinya tinggi.

Setelah bergabung dengan milis tersebut, yang namanya Milis Sehat di bawah naungan Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), aku awalnya terkaget-kaget anggota lama milis tersebut sangat melek ilmu bahkan kadang aku tidak bisa membedakan mereka itu dokter atau bukan. Dan aku belajar dari sumber yang terpercaya, bahkan hingga level jurnal-jurnal kesehatan yang tidak mudah diakses sembarang orang. Memang dibutuhkan kemampuan bahasa Inggris yang baik untuk membantu memahami topik yang dibahas.

YOP secara rutin kala itu melaksanakan Seminar dan Kelas-kelas Edukasi kesehatan dan KLASI (Kelas Edukasi ASI). Aku menjadi peserta keduanya dan kemudian menjadi tertarik mendalami ilmu laktasi. Akhirnya aku mengambil sertifikasi untuk menjadi Konselor menyusui di Indonesia dan saat tinggal di Amerika Serikat aku mengambil akreditasi sebagai La Leche League Leader, sehingga aku bisa memberikan konseling menyusui di seluruh dunia & memberikan peran lain ke dunia laktasi Indonesia seperti menjadi translator material-material laktasi dalam bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, juga membantu saat ada perwakilan NGO / saat ada media luar negeri yang datang ke Indonesia yang memerlukan data mengenai pelanggaran Kode WHO terkait Susu formula .

Aku sangat merasakan manfaatnya menjadi mitra sejajar dokter , apalagi kondisiku yang menderita penyakit kronis yang serius (walau kadang tidak semua dokter mau menerima bahwa pasiennya tahu berbagai informasi medis / tidak bisa berdiskusi dengan nyaman).

Sebagai penutup, aku kutip dari laman lama Yayasan Orang Tua Peduli : 

“Yayasan Orang Tua Peduli (YOP)

Visi :

Konsumen kesehatan Indonesia yang berdaya.

Misi :

Meningkatkan literasi konsumen kesehatan Indonesia melalui program edukasi komunitas terkait penggunaan obat yang rasional dan keselamatan pasien.

Kemitraan orang tua (“pasien”) dengan dokter merupakan salah satu komponen penting dalam membesarkan anak. Namun demikian, kemitraan hanya dapat mewujudkan kesepakatan pihak ketiga yang disetujui, sebagaimana langkah agar tercipta dari harmoni yang indah. Langkah yang harmonis hanya dapat tercipta dari konsumen yang sehat juga dapat diambil dari mereka untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan dasar kesehatan. 

Konsumen kesehatan yang baik menyadari bahwasanya kesehatan merupakan tanggung jawab bersama sehingga tidak membawa seluruh biaya ke pundak tenaga kerja.

Sesungguhnyalah, pembangunan kesehatan tidak identik dengan perawatan (kuratif) semata; Terkait pembangunan, kesehatan, berfokus pada upaya, promotif, edukatif, dan preventif. Di pihak lain, konsumen kesehatan memiliki hak untuk memperoleh informasi (informasi yang obyektif), hak didengar pendapatnya, serta hak memiliki pilihan dan menentukan pilihannya. 

Selain itu, pasien juga berhak untuk mendapatkan edukasi. Pasien juga mendapat hak untuk mendapat perlindungan “keamanan”. Kesadaran akan bertanggung jawab mencerdaskan diri dengan pengetahuan kesehatan serta kesadaran akan hak sebagai pengguna layanan kesehatan merupakan “nyawa” yang melandasi kegiatan Grup Sehat. Suatu grup yang berfokus pada ilmu kesehatan anak, antara lain meliputi ASI, imunisasi, pola makan sehat, perlindungan kesehatan pada anak (khusus yang kerap dijumpai sehari-hari) serta penanganannya di rumah (aspek perawatan diri), tumbuh-kembang anak serta pola asuh.

Februari tahun 2003 merupakan awal kegiatan inti kami yaitu ceramah kesehatan anak bagi para orang tua. Suatu kegiatan berskala kecil yang diselenggarakan di rumah, di sekolah, di restoran, di galeri, di studio foto, dimana saja, asalkan tidak perlu biaya sewa ruangan. Selanjutnya, para orang tua mengkoordinasikan kegiatan ini sehingga terus bergulir meski masih dalam skala kecil, Semangat para orang tua mencerminkan kondisi “haus” informasi serta keinginan kuat untuk menimba ilmu pengetahuan. Suatu fenomena mencolok di kalangan muda masa kini. Era informasi ini memberikan banyak kemudahan sehingga kehausan” ilmu pun menjadi lebih terakomodir.

Di akhir tahun 2003 tepatnya tanggal 19 Desember 2003, secara resmi kami membentuk suatu mailing list bernama sehat@yahoogroups.com. Selanjutnya, semenjak tahun 2004, kegiatan edukasi ini disusun agar lebih sistematis, komprehensif, serta meluas jangkauannya melalui aplikasi multi strategi. Kegiatan inti adalah paket ceramah PESAT (Program Edukasi Sehat bagi Orang Tua), mailing list, penulisan artikel, talk show radio, serta rencana pembentukan web. Pada Oktober 2019 mailing list Sehat pindah ke alamat milis-sehat@googlegroups.com.

PESAT. Setiap program PESAT memakan waktu kurang lebih 6 bulan. Sejak awal tahun 2005, PESAT dilaksanakan secara simultan di Jakarta dan di luar Jakarta (Batam, Bandung, Semarang…dll). Insya Allah, PESAT-PESAT berikutnya terus bergulir.

MAILING LIST. Diawali dengan 21 anggota, saat ini sudah menembus angka lebih dari 12500 anggota, tersebar di berbagai wilayah Indonesia bahkan juga di luar Indonesia.  Konsep pendiriannya adalah memperluas jangkauan edukasi secara efisien (berbiaya rendah) dan efektif, merangsang para orang tua untuk berani mengajukan pertanyaan, berani mengemukakan pendapat, serta mau berbagi pengalaman untuk membantu orang tua lain yang tengah menghadapi masalah kesehatan. Teknis pelaksanaannya juga multi strategi. “ Note : Sedihnya saat ini mailing list sudah tidak ada : 🙁

Share :

4 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kekuatan Pelukan

Kekuatan Pelukan

Bogor, 14 Oktober 2025 diambil dari Laman Facebookku 27 November 2019 Kemarin saat bedrest sempat…

BAHAYA MP-ASI DINI (MP-ASI = Makanan Pendamping ASI) Bogor, 14 Oktober 2025 , diambil dari…

Trending