Kisah Hidup Papaku (Bagian 3)

Bogor , 17 Juni 2025

Kulanjutkan ya kisah hidup Papaku ….

Diriku sendiri.

Note : saat blog ini kutulis, usia Papa sudah hampir 80 tahun MasyaAllah, nanti aku cerita sosok Papa di mataku ya.

Pada saat usia saya saat ini, yaitu pada kelompok lansia , bersyukur kepada Tuhan oleh karena saya saat ini tetap sehat dan bugar (Denyut nadi istirahat 60 x/menit). Adapun yang saya lakukan rutin : medical check up 6 bulan sekali secara teratur; olahraga aerobik 5 x seminggu, latihan weight training 2-3 x per minggu; asupan gizi rendah kalori, rendah lemak, protein secukupnya, dan sekali sehari asupan suplemen omega-3 dan antioksidan; serta mengelola stres dengan beribadah secara teratur, serta sering curhat dengan teman seprofesi.

Perjalanan hidup kami yang sangat sulit, akan tetapi berkat Karunia Tuhan, dan doa kedua orang tua, kami bersaudara dapat meraih jenjang pendidikan yang tertinggi.

Mengabdi dan Berbagi

Keberkahan yang diberikan Tuhan kepada saya sepertinya tidak pernah berhenti, walaupun melalui perjalanan hidup yang sangat sulit. Setelah saya lulus pendidikan dokter dari FK Unpad, saya mendapat tugas selama 7 tahun di Rumah Sakit Sekar Kamulyaan di daerah Cigugur – Kuningan Jawa Barat. Yang saya temukan setiap hari saya praktek, dari sejumlah pasien yang berobat sekitar 20 – 25 orang menderita penyakit TBC. Kebetulan desa Cigugur dan desa Cisantana penduduknya tergolong berpenghasilan rendah.

Saya berdiskusi dengan Pastor Kueven, untuk memperbaiki kehidupan masyarakat ini harus melalui pendidikan. Maka sepakatlah saya dengan Pastor Kueven agar anak desa Cigugur dan Cisantana yang cerdas disekolahkan oleh Gereja Katolik tanpa biaya pendidikannya ditanggung keluarga. Ternyata program itu berhasil sehingga masyarakat Cigugur kehidupannya saat ini menjadi relatif sangat baik.

Selain upaya saya mengabdi dan berbagi dengan masyarakat desa Cigugur dan desa Cisantana, saya pun berperan dalam Pendidikan, yaitu membantu bimbingan saya S2 maupun S3 agar lulus dengan baik dan tepat waktu. Saya pun bersyukur oleh karena sampai saat ini bimbingan saya S3 sekitar 98% lulus cum laude, dan mereka ini sering makan di rumah.

Saya pun turut membantu program pemerintah dalam rangka upaya mencapai Indonesia Emas 2045. Agar dapat berperan dalam program tersebut, maka saya upayakan dengan susah payah untuk mendapat lisensi LSP KESOR (Lembaga Sertifikasi Profesi Kesehatan Olahraga), yang dari peserta sertifikasi memiliki kompetensi  yaitu: menurunkan prevalensi stunting (untuk melahirkan generasi emas), menurunkan prevalensi penyakit degeneratif (penyakit jantung, stroke, diabetes, dll), dan meningkatkan prestasi atlet.

Mereka yang mengikuti Workshop dan Sertifikasi Kompetensi LSP KESOR apabila lulus pada ujian maka mereka mendapat gelar profesi AIFO-K (Ahli Ilmu Faal Olahraga – Klinis) dengan kompetensi yang diuraikan sebelumnya. Workshop dan Sertifikasi Komptensi LSP KESOR kami lakukan hampir setiap bulan di seluruh Indonesia dan pesertanya banyak dokter-dokter spesialis antara lain Dokter Spesialis Rehabilitasi Medis, Dokter Spesialis Orthopedi, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dll.

Gambar 1. Leaflet workshop dan Sertifikasi Profesi LSP KESOR

Nah temen-temen, inspiratif kan ya kisah hidup Papa. Bagian penutupnya di blog berikutnya yaa… 😀

Share :

4 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kekuatan Pelukan

Kekuatan Pelukan

Bogor, 14 Oktober 2025 diambil dari Laman Facebookku 27 November 2019 Kemarin saat bedrest sempat…

BAHAYA MP-ASI DINI (MP-ASI = Makanan Pendamping ASI) Bogor, 14 Oktober 2025 , diambil dari…

Trending