Bogor, 2 September 2025 diambil dari Laman Facebook ku 27 Maret 2021
Pada suatu siang kira2 3 tahun lalu, seorang teman sesama penyintas Autoimun menelfon. Bila ada teman sesama penyintas sampai tiba2 telfon pasti dalam kondisi sulit (bukan sekedar untuk say hello / tanya kabar – Untuk hal ini seringnya kami lebih nyaman via chat wa saja). Segera kuparkir mobil dan aku tarik nafas baru kuangkat telfonnya … “Mon… sambil nangis terisak.. Gue tadi mau bunuh diri”. Inhale exhale … kupakai semua teknik konseling yg kupunya : Assessment kondisi – Mendengarkan – Menerima perasaan nya – Empati – Memberi saran saat diminta.
Kondisi sudah kunilai aman di mana pisau sudah diamankan suami & anggota keluarganya.
Di perjalananku 11 tahun sebagai Konselor Menyusui & 8 tahun sebagai La Leche League (LLL) Leader, kasus terkait depresi seperti PPD (Post Partum Depression) bukan hal baru yg kutemui. Tentu aku hanya support dengan info2 & rujukan untuk ditangani psikolog & psikiater & Komunitas pendukung nya. Sayangnya penyakit kejiwaan di Indonesia masih dianggap tabu, aib & mayoritas menyalahkan tingkat keimanan penderita (di mana no debat untuk hal ini, tulisan kali ini hanya ingin mencurahkan isi hati bahwa penyebab depresi itu banyak sekali dan bisa murni terkait masalah medis seperti karena Efek Samping Obat). Seringnya penderita sudah di tahap berat dan mencoba bunuh diri.
Karena rendahnya awareness masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa, tanda2 seseorang mengalami gangguan jiwa yg perlu diperiksa oleh psikiater pun tidak banyak yg paham. Aku tidak pernah malu menceritakan bahwa aku pun pernah menjalani perawatan oleh psikiater di RSJ Dharmawangsa beberapa tahun lalu. Karena aku sudah di tahap kesakitan luar biasa – persistent – disable dan sudah di tahap terendah tidak mau hidup. Dr Richard (Direktur Medik RSJ Dharmawangsa) yg biasa menangani pasien2 Autoimun yg depresi mencari berbagai formula untuk manage rasa sakit di luar nalarku, yg kuingat berbagai campuran obat tidur + anti depressan yg berganti2 jenis + muscle relaxant dengan dosis yg berubah2. Satu tahun terapi Alhamdulillah bisa lepas dari masa itu.
Lalu fast forward ke masa kini….
Beberapa waktu lalu seorang teman lama chat wa… “Monik.. istriku sakit Autoimun juga. Sudah 2 bulan tidak mau bicara. Ada saran?” Lalu ku konseling assesment penyakit Autoimun nya dan ke psikiater. Agak lega karena per 2 minggu dibawa ke psikiater.
Tiba-tiba sebuah chat pendek yg bikin hatiku bagai dipukul palu “Monik.. istriku mau lompat dari lantai 2. Alhamdulillah ketahuan sebelum lompat. Sekarang dibawa ke RS, semoga dapat kamar”. Ah sedihnya Sebelum seseorang mau bunuh diri itu sebenarnya ada tanda2nya yg mungkin terlewat dari pantauan orang di rumah. Segera aku tlp Mba Nur Yana Yirah MotherHope Indonesia (MHI) dan dapat banyak sharing & saran yg bagus diantaranya Into The Light ini :
“Into The Light Indonesia berfokus untuk mengurangi stigma di masyarakat terhadap orang yang memiliki pemikiran, pernah mencoba, atau yang meninggal akibat bunuh diri, serta mendorong perilaku pencarian bantuan di masyarakat terkait masalah kesehatan jiwa.”
Semoga tulisan ini bisa bantu perluas awareness di masyarakat mengenai pentingnya menjaga – menilai kesehatan jiwa & menghapus stigma. Pendekatan dari sisi religi (untuk yg beragama Islam misalnya mau ikhtiar ruqyah dll) silakan lakukan dengan tidak mengabaikan pentingnya peran tenaga kesehatan yg kompeten dalam masalah kejiwaan seperti psikiater, psikolog.
F.B. Monika
Konselor Menyusui
La Leche League (LLL) Leader
Penulis “Buku Pintar ASI & Menyusui”
Note : Postingan ini di like oleh 355 pembaca, 57 komentar & 77 x dibagikan
Beberapa komentar yang masuk :
- Saya bukan auto imun tapi alumni covid, di awal akang meninggal ada di kondisi ini ceuu,,, ngga minum obat covid, ngga mau makan, kondisi menurun dipaksa di rawat di rs, dng kedua anak sy yg ngedrop karena covid
Niat mau nyusul suami, berharap mati, tapi anak2 histeris minta sy utk tetap bersama mereka
Ya Allah
- Aku memotivasi diriku sendiri
Kalau lagi down ” semua Qadar nya Alloh ,yg penting udah melakukan yg terbaik “
Kalau mati ga bisa makan bakso dll
Ga bisa liat anak anak tumbuh besar.
Alhamdulillah,perasaan setahun terakhir ini lebih tenang.
- Iya teh, banyak yang merasa malu untuk datang ke psikiater karena takut dianggap orang gila, masih perlu meningkatkan awareness tentang menjaga kesehatan jiwa. Sehat-sehat selalu ya
- Terima kasih remindernya mba…
SemAku mau cerita mba….5 bulan lalu anak pertamaku umur 7 tahun dan suamiku meninggal karena dbd…down,sedih,kangen,bingung,harus menguatkan diri karena ada anak bungsu umur 3 tahun,semua rasa campur jadi satu..5 bulan berlalu alhamdulillah udh bisa menerima takdir Allah,masih proses mengobati rasa di hati karena selalu kangen anak surgaku..lalu sebulan lalu,ibuku meninggal juga krn covid…pertama nangis banget tapi skrg ngerasa sedih,sesak tp ga nangis,ga bisa nangis…yg bisa bkin saya nangis hanya karena kangen anak surga saya…yg mau saya tanyakan,,masih wajarkan kondisi psikologis saya,mba?oga selemah apapun kondisi iman saya, ga ada terbersit untuk bunuh diri.
- saya yang punya gerd dan dulu sering bermunculan axienty pun pernah ke psikiater dan memang dr situ kita jd paham apa maunya diri kita yg sblmnya saya coba ruqyah pun masih blm ada kemajuan…peran orng2 terdekat sangat berpengaruh kejiwaan
- Saya kalau lagi down banget, suka ngomong sendiri kayak gini, “Sabar. Tinggal sedikit lagi.”
Saya harus pandai memotivasi diri sendiri karena kalau enggak, mungkin saya nggak akan bertahan hingga detik ini.



- Saya kalo down suka nangis sendiri,,,kadang berpikiran macam…
Mungkin karena ngga ada tempat buat berbagi cerita
- Pada masa bayi anak kedua kami, saya pernah mengalami rasa “ingin mati saja”
Anak kedua lahir dengan kondisi tongue tie hingga akhirnya dokter memutuskan insisi karena sudah diusahakan konselornya tapi masih belum berhasil menyusu dengan baik, anak kami kuning serta kondisi lainya alergi tiap saya mengonsumsi protein hewani, kacang-kacangan dan terigu.
Memasuki bulan ketiga kami pindah ke rumah sendiri,artinya saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Rasanya, bukan perkara soal kurang iman. Masa adaptasi dengan lingkungan, dirumah mengurus balita dan bayi yang memiliki alergi jauh dari keluarga tanpa ART kecuali cuci dan gosok dilaundry, makan terbatas pilihannya, suami bekerja dan hanya ketemu malam.
Saya merasa sangat lelah dan lemah tapi tidak ada selera untuk makan serta sulit tidur siang maupun malam.
Puncaknya ketika suami akan berangkat keluar kota urusan pekerjaan, saya merasa “menyerah”
~~~~~~~~~
Akhirnya suami mencarikan ganti orang lain untuk berangkat.
Suami izin kekantor untuk cuti lagi karena jatah cuti tahunan sudah diambil saat saya lahiran, lalu mengajak saya pulang kampung betemu dan berkumpul dengan orang tua saya.
Ternyata beliau curhat ke ayah saya, menceritakan semuanya. Alhamdulillah keluarga mengerti. Saya didampingi, ada teman bicara, ditanya butuh apa. Yappp, ketika tahu ada yang mendengarkan kita, itu rasanya menyenangkan sekali.
Dari kejadian itu yang bisa saya ambil pesannya, “perhatian, pengertian, komunikasi,kasih sayang, doa, sabar,syukur dan ikhlas.”
Saya bersyukur bertemu akun FB pejuang hebat salah satunya seperti Mbak Monik.
Terimakasih sudah menuliskan banyak kisah yang bermanfaat Mbak. Semoga semangat yang Mbak tularkan ke saya Allah ganti dengan banyak kebaikan dan kebahagiaan untuk Mbak .
Sekarang anak kami sudah 3. Saya bersyukur masih hidup hingga saat ini. Tetangga kami baik dan peduli, anak-anak tumbuh sehat dan ceria. Si anak nomor 2 bahkan sudah aman makan berbagai jenis makanan laut dan darat.
Berusaha melakukan yang terbaik, mensyukuri nikmat punya hak asah, hak asuh dan hak asih tapi bukan hak milik pada tiga anak saat ini. Dan tidak pula terpuruk pada pemikiran ‘andai saya mati waktu itu’ karena saya sadar memikirkan hal begitu akan menggali rasa bersalah, makanya cukup menghargai kehidupan saat ini dan tidak lupa senantiasa memohon ampunan.
- Kesehatan mental penting sekali. Tapi sayang saat diri sendiri tau butuh penanganan psikologis misal psikolog yang terpeecaya, apalagi saat pandemi seperti ini. Yang jadi masalah adalah biaya per sesi bisa ratusan ribu per jam. Pertemuan pertama kebanyakan assesmen belum begitu ada solusi jdi tidak lanjut k sesi berikutnya